Arti Motif Wayang : Kalung Ulur, Ricikan Ksatria (Raja)

0 228

Ricikan, istilah untuk menyebut asesoris pada busana dan perlengkapan pentas peraga wayang orang. Fungsi ricikan adalah pendukung artistik untuk menguatkan karakter dan memperindah penampilan seorang tokoh. Selain itu fungsi ricikan adalah penanda identitas untuk membedakan tokoh yang satu dengan yang lain. Karena setiap tokoh mempunyai kelengkapan ricikan yang berbeda dengan tokoh lainnya. Yang termasuk ricikan di dalam tata busana wayang orang: Sumping, gumbala, wok, kelat bahu, gelang, kalung robyong, kalung penanggalan, kalur ulur, gimbalan, praba, uncal, badhong, binggel, dan masih banyak lagi.

Bentuk-bentuk dan variasi ricikan disesuaikan dengan karakter tokoh yang memakainya. Sekar Budaya Nusantara mempunyai pakem ricikan yang khas, yang berbeda dengan wayang orang lainnya, yaitu penggunaan prada mas tanpa sunggingan (cat) yang berwarna-warni dengan meminimalisasi penggunaan batu, payet, dan pernik-pernik yang berkilauan berlebihan. Dengan pencahayaan yang bagus, sinar dan aura dari tokoh yang mengenakan ricikan gaya SBN akan kelihatan kesan klasik, mrabu (berwibawa/kharismatik).

Dengan dukungan artistik ricikan dan tata rias yang tepat, karakter tokoh akan muncul lebih kuat dan elegan. Kalung ulur dipakai oleh para ksatria dan raja untuk menambah kesan wibawa. Kalung ini berupa manik-manik atau untaian bertatahkan batu permata yang dikalungkan di leher memanjang sampai pinggang. Di tengah kalung (posisi dada) dihiasi motif batu permata.

Source sekarbudayanusantara.co.id sekarbudayanusantara.co.id/Wynk/?p=1073
Comments
Loading...