Arti Motif Wayang : Kelat Bahu, Sebagai Hiasan Lengan

0 534

Fungsi ricikan wayang orang adalah pendukung artistik untuk menguatkan karakter dan memperindah penampilan seorang tokoh. Selain itu fungsi ricikan adalah penanda identitas untuk membedakan tokoh yang satu dengan yang lain. Karena setiap tokoh mempunyai kelengkapan ricikan yang berbeda dengan tokoh lainnya. Yang termasuk ricikan di dalam tata busana wayang orang: Sumping, gumbala, wok, kelat bahu, gelang, kalung robyong, kalung penanggalan, kalur ulur, gimbalan, praba, uncal, badhong, binggel, dan masih banyak lagi.

Bentuk-bentuk dan variasi ricikan disesuaikan dengan karakter tokoh yang memakainya. Sekar Budaya Nusantara mempunyai pakem ricikan yang khas, yang berbeda dengan wayang orang lainnya, yaitu penggunaan prada mas tanpa sunggingan (cat) yang berwarna-warni dengan meminimalisasi penggunaan batu, payet, dan pernik-pernik yang berkilauan berlebihan. Dengan pencahayaan yang bagus, sinar dan aura dari tokoh yang mengenakan ricikan gaya SBN akan kelihatan kesan klasik, mrabu (berwibawa/kharismatik).

Dengan dukungan artistik ricikan dan tata rias yang tepat, karakter tokoh akan muncul lebih kuat dan elegan. Kelat bahu adalah asesoris yang dipakai oleh peraga wayang pria maupun wanita sebagai hiasan di lengan. Untuk tokoh Puntadewa, Arjuna, dan Sembadra ketika masih muda memakai kelat bahu, tetapi ketika sudah tua tidak lagi. Falsafahnya manusia semakin dewasa ridak lagi mengutamakan hiasan/tata lahir, namun harus lebih mengutamakan olah batin.

Source sekarbudayanusantara.co.id sekarbudayanusantara.co.id/Wynk/?p=1073
Comments
Loading...