Arti Motif Wayang : Kuku Pancanaka, Ricikan Khusus

0 140

Ricikan (jw) adalah istilah khas untuk menyebut asesoris pada busana dan perlengkapan pentas peraga wayang orang. Fungsi ricikan adalah pendukung artistik untuk menguatkan karakter dan memperindah penampilan seorang tokoh. Selain itu fungsi ricikan adalah penanda identitas untuk membedakan tokoh yang satu dengan yang lain. Karena setiap tokoh mempunyai kelengkapan ricikan yang berbeda dengan tokoh lainnya. Yang termasuk ricikan di dalam tata busana wayang orang: Sumping, gumbala, wok, kelat bahu, gelang, kalung robyong, kalung penanggalan, kalur ulur, gimbalan, praba, uncal, badhong, binggel, dan masih banyak lagi.

Bentuk-bentuk dan variasi ricikan disesuaikan dengan karakter tokoh yang memakainya. Sekar Budaya Nusantara mempunyai pakem ricikan yang khas, yang berbeda dengan wayang orang lainnya, yaitu penggunaan prada mas tanpa sunggingan (cat) yang berwarna-warni dengan meminimalisasi penggunaan batu, payet, dan pernik-pernik yang berkilauan berlebihan. Dengan pencahayaan yang bagus, sinar dan aura dari tokoh yang mengenakan ricikan gaya SBN akan kelihatan kesan klasik, mrabu (berwibawa/kharismatik).

Dengan dukungan artistik ricikan dan tata rias yang tepat, karakter tokoh akan muncul lebih kuat dan elegan. Ada beberapa tokoh yang mempunyai ricikan pamijen (khusus), misalnya Bima atau Werkudara. Ia mempunyai ricikan khusus berupa kalung berkepala naga, kelat bahu yang besar dan kuku yang disebut Kuku Pancanaka.

Source sekarbudayanusantara.co.id sekarbudayanusantara.co.id/Wynk/?p=1073
Comments
Loading...