Catur Wayang : Meliputi Janturan Pocapan Ginem

0 98

Pada sajian catur, yang meliputi janturan, pocapan, dan ginem, Ki Manteb memiliki kecenderungan mengubah bahasa klise dalam janturan dan pocapan dengan cara mengadakan penambahan dan penggantian wacana janturan dan pocapan. Dalam sajian ginem wayang, ia memiliki kecenderungan menampilkan dialog tokoh secara proporsional menyesuaikan persoalan yang dibahas. Selain pengaruh pakeliran padat, Ki Manteb mengaku banyak dipengaruhi Ki Nartasabda, terutama dalam dramatisasi ginem wayang.

Dalam hal gending, Ki Manteb mengadakan inovasi dengan cara menata gending sendiri atau merekrut seorang penyusun gending dalam setiap pergelaran wayang. Ki Manteb juga menggunakan berbagai peralatan musik non-gamelan, seperti: rebana, klarinet, bas-drum, terompet, snardram, symbal, dan organ. Peralatan ini digunakan untuk membuat aransemen lagu selingan dan memberikan efek tertentu pada gerak wayang. Gejala estetik seperti ini disambut para dalang lain sebagai kiat untuk menjawab pangsa pasar, sehingga instrumen nongamelan menggejala di setiap pementasan dalang di berbagai daerah.

Ki Manteb memberikan tawaran baru dalam hal sulukan wayang dengan menyajikan sulukan wayang dari tradisi pedalangan keraton dicampur gaya sulukan dari pedalangan lain, seperti sulukan Banyumasan, Yogyakarta, Kedu, Jawatimuran, dan gaya pedesaan. Setiap penggemar wayang, tidak hanya di Jawa tetapi juga di seluruh nusantara bahkan mancanegara, telah mengenal Ki Dalang Oye Manteb Soedharsono. Popularitasnya sebagai dalang wayang kulit purwa melejit.

Source docplayer.info docplayer.info/56814222-Ki-manteb-soedharsono-pemikiran-dan-karya-pedalangannya.html
Comments
Loading...