Dalang Wayang : Jagad Dalangan oleh Nartasabda

0 42

Jagad pedalangan dirintis oleh Nartasabda, serta ia mumlai gaya lucu untuk narasi bahkan dari awal pertunjukan atau jejer sudah memasukkan humor. Walaupun gaya pedalangannya menimbulkan pro dan kontra di kalangan para pendukung wayang, tetapi ia mendapat sambutan di tengah-tengah masyarakat, bahkan gaya pedalangannya sebagai kiblat para dalang yunior dan para dalang generasi penerus. Pada tahun 1960 sampai dengan tahun 1986 Nartasabda berada di puncak ketenarannya yang membuat kehidupan jagad pewayangan lebih semarak dan berkembang, terutama wayang kulit yang mengambil cerita Mahabarata.

Jagad pedalangan pada waktu itu tidak hanya menggarap masalah esensi lakon atau masalah kejiwaan saja, tetapi pedalangan juga dititipi pesan-pesan dari pemerintah terutama yang menyangkut kebijakan pemerintah atau pesan-pesan yang berupa propaganda untuk kepentingan golongan tertentu. Maka dunia pewayangan semakin semarak dan hidup subur di tengah masyarakat pendukung wayang, tidak hanya sebagai hiburan rohani tetapi juga sebagai media hiburan, penerangan, alat propaganda, pendidikan dan juga alat dakwah.

Bentuk wayang yang lain seperti wayang golek Jawa, wayang madya, wayang gedog, wayang klitik semakin tersisih dari tengah-tengah masyarakat oleh karena wayang-wayang itu tidak fleksibel seperti wayang kulit purwa. Di samping itu jenis-jenis wayang itu kurang dikenal oleh masyarakat bahkan sumber ceritanya kurang dipahami oleh pendukung wayang, karena wayang madya mengambil cerita dari Serat.

Source researchgate.net researchgate.net/publication/301740589_UPAYA_MENCEGAH_HILANGNYA_WAYANG_KULIT_SEBAGAI_EKSPRESI_BUDAYA_WARISAN_BUDAYA_BANGSA
Comments
Loading...