Dalang Wayang : Latar Hidup Dalang Wanita Suharni

0 519

Sejak umur dua tahun Suharni telah mulai akrab dengan kesenian terutama ketoprak dan karawitan, karena selama masih kecil mengikuti ayahnya mengelola ketoprak Krida muda. Keikutsertaan Suharni dalam ketoprak ini menunjukkan bahwa pengaruh kehidupan seni telah terasa sejak dini. Setelah kembali ke Kedung Bringkil, tanah kelahirannya ia beralih menyenangi pertunjukan wayang. Bersama Kromo Wahana kakeknya yang sebagai penggenderSuharni seringkali melihat pentas dalang-dalang terkenal di daerah Sragen seperti Ganda Suwarna, Ganda Logiyana dan Ganda Buana.

Demikian cintanya terhadap wayang sehingga hampir tiap saat kakeknya mengender, terus menerus diikutinya. Menurut Geertz yang dikutip oleh Koentjaraningrat dan Franz Magnis Susena bahwa keluarga selalu melindungi anaknya terhadap pengalaman frustasi. Anak yang berumur tiga tahun terus menerus menjadi pusat perhatian orang tua. Pengalaman frustasi dan kejutan-kejutan sedapat-dapatnya dicegah serta semua keinginannya dipenuhi, selain itu anak tidak pernah dibiarkan sendirian.

Sambil melihat pertunjukan wayang Suharni mulai berlatih menabuh gamelan meskipun terbatas pada racikan kethuk. Dengan berlatih rician ini keperluannya terhadap irama mulai terbentuk, setiap melihat pertunjukan wayang ia tentu menirukan apa yang dilakukan oleh dalang, seperti suluk, antawacana, dan gerak wayang. Apapun yang ia pegang akan ia suarakan dan gerakkan sebagaimana dalang memperlakukan wayangnya. Dikemukakan oleh Sumanto, dengan mengikuti pentas orang tuanya atau orang yang dianggap.

Source indonesiawayang.com indonesiawayang.com/2010/05/10/suharni-sabdowati
Comments
Loading...