Dalang Wayang : Manteb Soedharsono, Sandiasma

0 37

Ki Manteb Soedharsono menjadi mengerti mengenai sandiasma di dalam gendhing ataupun tembang. B. Mengenal Konsep Pakeliran Padat Pada tahun 1973 Ki Manteb Soedharsono mulai kenal dengan akademisi seni yaitu Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Surakarta, melalui Sarasehan Pedalangan di Kabupaten Sragen yang diselenggarakan oleh Lembaga Pembina Seni Pedalangan Indonesia (Ganasidi). Pada saat itu yang tampil sebagai pembicara antara lain S.D. Humardani, atau yang lebih akrab dipanggil Gendhon Humardani.

Ia adalah Ketua ASKI Surakarta sekaligus Ketua Pusat Kesenian Jawa Tengah (PKJT), yang berkampus di Sasonomulyo, Baluwarti, Karaton Surakarta. Di dalam sarasehan ia kemukakan tentang konsep pakeliran baru yang disebut pakeliran padat. Pakeliran padat adalah bentuk pertunjukan wayang yang lebih menekankan pada perpaduan antara wadah dan isi pakeliran. Apa yang tersaji di dalam pakeliran harus wos, mentes, tidak banyak isèn-isèn yang tidak berarti.

Oleh karena sajiannya harus wos atau mentes, maka unsurunsur pakelirannya yang meliputi catur, sabet, sulukan, dan gending pakeliran harus disajikan seefisien mungkin. Akibatnya, durasi pertunjukannya menjadi relatif pendek yakni berkisar satu sampai dengan satu setengah jam. Tawaran Gendhon Humardani tersebut banyak mendapat kritik bahkan penolakan dari para dalang peserta sarasehan, terutama para dalang sepuh. Dari sekian banyak peserta, hanya Ki Manteb Soedharsono yang pada saat itu menyatakan mau menerima konsep.

Source Doc docplayer.info/56814222-Ki-manteb-soedharsono-pemikiran-dan-karya-pedalangannya.html
Comments
Loading...