Dalang Wayang : Pak Dalang “Menghina” Wayang

0 110

Dunia Wayang adalah dunia yang penuh dengan kreativitas, di dalamnya bisa menyusun cerita. Dikenal dengan nama

sanggit

yaitu upaya mengembangkan cerita pokok menjadi relevan dengan nilai-nilai sekarang. Sengkuni yang licik sering dianggap suka memanipulasi data. Melaporkan hal-hal yang dianggap belum tentu menjadi fakta. Kasus pertama adalah pada saat melaporkan bahwa patih Astina telah tewas dalam perang melawan Kerajaan Pringgondani, sehingga memuluskan jalan Sengkuni menggantikan Patih Gandamana. Hukum telah ditetapkan bahwa Sengkuni menjadi patih.

Kasus kedua ketika melaporkan bahwa Pandawa beserta Dewi Kunti, Ibunya, telah tewas terbakar dalam Bale Sigalagala. Dampak pemalsuan itu melenggangkan Duryudana menjadi Raja Astina yang saat itu dipegang oleh Drestarastra, ayah Duryudana. Sekali raja berfatwa tidak bisa dimundurkan lagi. Begitu perkembangan teknologi berjalan begitu pesat, Pak dalang mungkin mempunyai sanggit kekinian bahkan bisa berupa sindiran. Suatu waktu bisa jadi Petruk yang berhidung panjang dan dianggap cacat ternyata tidak mau dipublikasikan lagi.

Mempublikasikan wajah Petruk berarti menghina Petruk. Mempertontonkan kekurangan Petruk kepada khalayak. Tentu saja Petruk menjadi malu, dan Petruk menggugat. Bahkan Petruk pun tidak mau dipanggil Petruk, karena sudah berkonotasi jelek. Panggilan petruk selalu berkonotasi kepada hidung panjang dan kanthong bolongKantong Bolong secara harfiah dianggap sebagai boros, sebagian tafsir menyatakan bahwa Petruk selalu beramal, seluruh penghasilan.

Source Kompas kompasiana.com/maoneid/5500fc94a33311ef6f512bfc/pak-dalang-menghina-wayang
Comments
Loading...