Dalang Wayang : Sutrisno Madiyocarito, Dalang Sesepuh

0 134

Sutrisno Madiyocarito, dalang sesepuh yang banyak mengajar dalang muda di daerah itu. Kendati namanya relatif dikenal, Nyi Wiwik mengaku tak mematok harga pentas setinggi lelaki dalang.

Lelaki dalang mematok ongkos pertunjukan sampai Rp 50 juta lebih semalam. Saya belum sebesar itu. Honor mendalang saya kelas medium, terjangkaulah. Bahkan, kalau ada yang mau nanggap dengan bayaran Rp 10 juta komplet, kelompok saya siap

katanya. Memainkan wayang kulit secara komplet, ia lebih mengutamakan garapan cerita alternatif atau carangan, di luar cerita wayang klasik yang sudah pakem. Dalam carangan terdapat formasi lawakan, campursari, juga organ tunggal. Seperti dalang lain, Nyi Wiwik menguasai carangan, seperti Semar Boyong, yang berkisah tentang penculikan Semar, juga cerita pakem alias babonan. Namun sebagai dalang, ia dapat memenuhi permintaan untuk memainkan cerita klasik dan carangan.

Bedanya, dalam cerita klasik wayang tidak ada improvisasi, seperti lawakan atau selingan campursari. Dari pengalamannya, Nyi Wiwik berpendapat, mementaskan wayang kulit dengan garapan cerita alternatif lebih mudah untuk menyampaikan pesan-pesan, seperti tentang pembangunan. Pesan-pesan itu mudah mengalir lewat adegan limbukan, goro-goro, atau lawakan. Dengan cara itu, pesan yang disampaikan mudah dipahami masyarakat penonton. Nyi Wiwik bercerita, saat belajar di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Solo, ia sebetulnya ingin mengambil jurusan tari. Namun, ia dilarang ayah Wiwik.

Source indonesiaproud.wordpress.com/2011/03/10/dwi-tristi-hartini-dalang-wayang-kulit-ngisor-pring
Comments
Loading...