Falsafat Wayang : Demokrasi Wayang Suket Indonesia

0 59

Tiba-tiba si Sulung berkeinginan memahami demokrasi secara nyata dan dengan penjelasan yang ringan. Saya berpikir keras. Akhirnya, saya meminta ia agar membaca salah satu tulisan saya. Ternyata juga, tulisan itu masih cukup segar untuk ditampilkan di masa sekarang. Inilah dongeng itu. Ki Slamet Gundono adalah dalang ternama dari Tegal, yang mempopulerkan Wayang Suket—wayang yang terbuat dari rumput. Dalam bahasa Jawa, suket berarti

rumput

Dan, dengan kreativitasnya, Ki Dalang bertubuh tambun itu memadukan keterampilan mendalang, berteater, dan bermusik, sambil memainkan lakon-lakon pewayangan klasik yang diaktualkan dengan peristiwa nyata. Di tangannya, suket menjelma menjadi wayang-wayang yang memiliki “otak” dan “hati”. Dalam satu kesempatan di depan “publik”nya di Solo, Ki Dalang mempertontonkan pertarungan dua murid Pandita Durna, Raden Arjuna dan Bambang Ekalaya. Bila Arjuna murid resmi yang setiap hari isi absen, duduk, memperoleh penjelasan, dan rapor, maka sebaliknya dengan Bambang Ekalaya. 

Source Kompas kompasiana.com/syaifulhalim/552fa9136ea83427108b4567/demokrasi-wayang-suket
Comments
Loading...