Falsafat Wayang : Filosofi dalam Seni Pertunjukan

0 127

Didalam seni pertunjukan wayang purwa, terdapat 2 karya sastra adiluhung yang menjadi sumber cerita untuk dikisahkan oleh seorang dalang, yakni: yakni KakawinRamayana karya Walmiki dan KakawinMahabharata karya Vyasa (Wiyasa atau Abiyasa). Dua kitab babad yang berasal dari India dan berlatar belakang ajaran agama Hindu. KakawinRamayana mengisahkan peperangan antara pasukan raksasa Alengka di bawah komando Prabu Rahwanaraja (Prabu Dasamuka) melawan pasukan kera Ayodia di bawah komando Prabu Rama Wijaya.

Perang tersebut timbul sesudah Rahwanaraja menculik Dewi Shinta di Hutan Dandaka. Dalam perang tersebut; Prabu Rahwana, Kumbakarna, Sarpakenaka, Patih Prahasta, Indrajid, dan pasukan raksasa berhasil ditaklukkan oleh pasukan Ayodia. Dengan demikian, Shinta kembali ke tangan Rama Wijaya. Sementara Kakawin Mahabharata berkisah tentang kehidupan keluarga Bharata yang berujung pada perang Bharatayuddha antara keluarga Pandawa dan Korawa.

Dalam perang tersebut, pasukan Pandawa (Puntadewa, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa) mendapat dukungan Prabu Kresna (raja Dwarawati), Prabu Matsyapati (raja Wirata), Setyaki, Trustajumena, Resi Seta, dll. Sementara, pasukan Korawa (Prabu Doryudana, Dorsasana, Bogadenta, dst) mendapat dukungan  Resi Bisma, Resi Drona, Patih Sengkuni, Prabu Salya (raja Mandaraka), Karna (adipati Awangga), Jayadrata (adipati Banakeling), dll.

Source Kompas kompasiana.com/achmadeswa/5acfabdc5e137376c35da9b2/filosofi-dalam-seni-pertunjukan-wayang-purwa
Comments
Loading...