Falsafat Wayang : Filsafat Wayang di Negara Maju

0 156

Di negara – negara maju justru muncul gerakan untuk kembali menggali kekayaan budaya lokal mereka, seperti di Irlandia orang kembali menggali kekayaan Keltik, juga di Denmark orang kembali menggali Viking. Di negara-negara maju, ada gerakan dari logos atau sains ke mitos, seni, dan mistik. Sebaliknya, di Indonesia orang baru belajar bergerak dari mitos ke logos, sains, dan filsafat meski tertatih-tatih dan bingung.

Kita baru tahu siapa kita selama kita berelasi dengan banyak pihak. Penolakan terhadap apa yang berbeda itu primitif dan tidak akan membawa kita ke mana-mana. Ini zaman relasional

kata Bambang. Dalam hal pewarisan budaya wayang, ada sebagian kalangan yang bersikap defensif, tidak mau tergerus budaya lain. Namun, ada pula pihak yang bersemangat partisipatif, antara lain dengan mengupayakan agar filsafat wayang dapat memperkaya filsafat dunia. Prof Joko Siswanto yang juga Ketua Senat Fakultas Filsafat UGM mengatakan, wayang memiliki watak terbuka dalam menghadapi berbagai pengaruh budaya serta mampu mengantisipasinya.

Semua itu berkat kekuatan hamothamonghamemangkat, yakni kemampuan menerima pengaruh dari luar untuk disaring dan diolah guna memperkuat budaya wayang. Watak terbuka sekaligus kritis ini sangat dibutuhkan pada masa kini, terutama menyikapi muculnya gerakan radikalisme dan fundamentalisme.

Bahaya dari fundamentalisme adalah menutup cara berpikir, membutakan pikiran, dan tak berani menanggapi realitas

Source Kompas kompas.id/baca/utama/2017/05/23/filsafat-wayang-perkaya-dunia
Comments
Loading...