Falsafat Wayang : Filsafat Wayang, Khas Indonesia

0 243

Sejak kehadiran negara-negara Barat ke Nusantara, pola pikir rasionalitas Barat sangat mewarnai pendidikan di Indonesia. Meski demikian, Indonesia sebenarnya memiliki banyak pemikiran khas Nusantara yang merupakan hasil akulturasi budaya selama berabad-abad, salah satunya pewayangan yang telah menjadi bagian ilmu tersendiri, yaitu filsafat pewayangan. Ketua Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (Sena Wangi) Dr Sri Teddy Rusdy mengatakan, sejak akhir 1990-an, upaya untuk menggali filsafat sudah dilakukan oleh Sena Wangi bersama dengan Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, DIY.

Hingga tahun 2017, penelitian bersama tersebut sudah berhasil mempersembahkan filsafat wayang sistematis yang berusaha menggali metafisika, epistemologi, dan aksiologi wayang

ucapnya, Senin (22/5), dalam Seminar Nasional Filsafat Wayang ”Merajut Keindonesiaan dalam Perspektif Filsafat Wayang” di Gedung STR, Jakarta. Mengapa wayang akhirnya bisa menelurkan cabang filsafat tersendiri? Pertama, pertunjukan wayang bukanlah sekadar tontonan, melainkan juga terikat pada tatanan dan sarat dengan tuntunan. Menurut Sri Teddy, wayang disebut sebagai wewayanganing ngaurip atau gambaran tentang kehidupan. Pertunjukan wayang sejak dari penyajian gending-gending patalon hingga selesai pertunjukan merupakan lambang dari filosofi perjalanan hidup manusia, terutama dalam budaya Jawa.

Tahun 2011, kami meluncurkan mata kuliah filsafat pewayangan sebagai mata kuliah S-1, S-2, dan S-3 di UGM. Ini menjadi salah satu keunikan dan keunggulan kami. Sampai sekarang sudah lahir sekian banyak skripsi, tesis, & disertasi

Source Kompas kompas.id/baca/humaniora/dikbud/2017/05/22/filsafat-wayang-filsafat-khas-indonesia
Comments
Loading...