Falsafat Wayang : Kilas Sifat Warna Wayang di Jawa

0 332

Sifat Warna
Merah : Api Amarah Marah
Hitam : Bumi Aluamah Makanan
Kuning : Air Sufia Kesenangan
Putih : Udara Mutmainah Kesucian

Keempat kuda jelas dipadankan dengan empat nafsu, daya atau energi yang harus diarahkan pada satu tujuan. Nafsu empat akan berguna bagi kehidupan jika ia tidak dikacaukan hasrat penguasaan. Ia bukan hal yang patut dipertentangkan apalagi dihindarkan. Hidup nyatanya membutuhkan kekuataan dan gairah. Terkendalinya ego yang berada di lintang empat itu pada gilirannya akan mendorong pencapaian yang lebih tinggi lagi, yakni bersatunya: Rasa yang diwakili oleh Batara Narada; Roh-Batara Respati; Nafsu-Batara Parasu; Budi-Batara Janaka (Arjuna); dalam Diri yang hidup-Kresna (Lih. Woodward, 1999: 281, bdk. Stange, 1998: 57-58).

Para Pandawa sendiri seringkali diasosiasikan dengan panca indera sekaligus perlambang sifat. Dan orang Jawa senang sekali memadu-madankan sifat-sifat itu bagi dirinya maupun bagi kepentingan pedagogik yang lebih luas, bagi anak-anak mereka. Bima adalah lambang kekuatan sekaligus ketulusan. Pertemuannya dengan dirinya melalui Nawaruci adalah contoh paling klasik yang kemudian ‘meruwat’ kekurangannya: berjalan maju tanpa menimbang bimbang.

Yudhistira adalah gambaran bagi altruisme sampai pada titik mengorbankan diri dan akhirnya kepentingan yang lebih besar. Ia seringkali terjebak pada perasaan ‘tidak dapat berkata tidak’ dan dengan begitu selalu mem-butuhkan saudara-saudaranya untuk mengambil putusan yang berkait dengan kebijakan publik. Sementara Arjuna, saking satria-nya tega kejam.

Source Wayangku Wayang Indonesia
Comments
Loading...