Falsafat Wayang : Tujuan Hidup dari Dunia Wayang

0 164

Manusia Hidup haruslah berdasarkan kepada apa yang dinamakan kebenaran. Dan menurut wayang, “kebenaran sejati” (ultimate truth) hanyalah datang dari Tuhan. Untuk mendapatkan ini, manusia harus dapat mencapai “kesadaran sejati” (ultimate awareness) dan memiliki “pengetahuan sejati” (ultimate knowledge). Untuk itu, manusia harus dapat melihat “kenyataan sejati” (ultimate reality) dengan melakukan dua hal. Pertama, mempersiapkan jiwa raganya sehingga menjadi manusia yang kuat dan suci, dan kedua memohon berkah Tuhan agar dirinya terbuka bagi hal-hal tersebut (tinarbuka).

Dimaksudkan terbuka di sini adalah, sesuatu yang dicapai bukan melulu dari kekuatan penalaran atau rasio. Saat rasio terhenti, untuk mencapai kebenaran sejati, manusia harus menggunakan “rasa sejati” (ultimate feeling) melalui mistik. Jika filsafat oleh orang Barat dilakukan atas dasar rasio semata (akal, budi, pikiran, nalar), maka bagi dunia kejawen pengkajian kebenaran dilakukan melalui rasio plus indera batin. Inilah bedanya antara “ilmu” dan “ngelmu”.

Dengan mistis, manusia dapat melihat “kenyataan sejati” tentang dirinya, asal mula diri dan kehidupannya, yang semua itu dirangkum dalam ajaran “sangkan paraning dumadi” (asal mula dan akhir kehidupan manusia). Wayang semacam “Kitab Undang-undang Hukum Dharma” (KUHD) yang menuntun manusia dalam meniti jalan kehidupan antara “sangkan” (asal) dan “paran” (tujuan) menuju yang abadi (Tuhan). UU Dharma itu tidak dituang dalam berbagai bab, pasal, & ayat.

Source Filsafat filsafatpendidikans.wordpress.com/2016/10/01/makna-filosofi-hidup-dari-dunia-wayang
Comments
Loading...