Falsafat Wayang : Wayang & Filosofi Cinta Asmara

0 96

Terlalu banyak madyaloka menyimpan misterinya. Terlalu semu misteri-misteri itu untuk diberikan suatu batasan. Bukannya tak berbatas, namun batas itu yang menjadikan dirinya sendiri menjadi maya. Dalam ketakterbatasan itulah tersimpan keterbatasan yang harus diterjemahkan sesuai hakikatnya masing-masing. Hakikatnya, cinta itu tak berhakikat. Karena hakikat itu terwujud dalam suatu manifestadi interpretasinya terhadap kondisinya masing-masing.

Arjuna menerjemahkan cintanya sendiri. Duryudana memiliki interpretasi dan penghayatannya sendiri. Rahwana terjebak dalam romantismenya sendiri. Dan Lesmana widagda melilih menginterpretasikannya sebagai suatu hal yang tak terdefinisi. Bagi Ajuna, cinta adalah kepuasan tidak terbatas yang justru ia sendiri tidak mendapatkan apa itu cinta. Bagi Duryudana, cintanya adalah mencintai satu arah. Dan terbuai dalam cintanya yang tak berbatas namun salah dan tak tertuju.

Sehingga lagi-lagi ia tidak mendapatkan apa-apa dari cinta. Bagi Rahwana, cinta adalah pengorbanan terhadap romantisme. Sehingga ia terjebak dalam suatu romantisme traumatik yg statis. Dan lagi-lagi, tiada mendapatkan apapun ia dari interpretasi cintanya. Bagi Lesmana, cinta adalah kekosongan sehingga ia memilih untuk tidak menginterpretasikannya dgn menjadi seorang Brahmacarya. Demikianlah ketika cinta dalam interpretasi yg tidak pada hakikatnya. Lain halnya dengan Salya dgn filosofinya. Lain dengan Yudistira dengan kesederhanaan dan kesetiaannya. Mereka yg mendefinisikan cintanya ke dalam suatu filosofi, berhasil menempatkan suatu hakikat pada hakikatnya.

Source Kompas kompasiana.com/pramonosekti/54ffbda8a333118b5c510301/wayang-dan-filosofi-cinta
Comments
Loading...