Jenis Wayang : Akhirnya Wayang Potehi di Jemari

0 51

Ujung lengan jaket merah sedetik berpindah ke hidung Saya. Setitik curahan langit menetap di dahi, dan setali tiga uang dengan keadaan dua alas kaki. Kampung Ketandan selain dipadati pencinta kuliner serta seni, juga disayangi oleh langit malam saat perayaan Cap Go Meh. Semua merah. Saya memang tidak merayakan imlek secara khusus, namun selalu jatuh cinta pada suasana yang terbangun. Lontong Cap Go Meh menjadi godaan pertama dari salah satu mentor untuk menyusuri 30 menit perjalanan dari kediaman. Setelah menemukan kuliner yang memang tak perlu diragukan akan membuat rindu, Saya melangkah ke ujung jalan. Jauh dari kerumunan, untuk membuat memori tersendiri.

Jreng!

Saya sejurus sedikit melompat mendekati teman yang berada di samping. Saya tahu bahwa sumber suara Simbal tersebut ada dibalik panggung Wayang Potehi. Hanya saja tidak mengira bahwa pertunjukan akan segera dimulai. Dalam hitungan menit kemudian suara pria yang terdengar sudah paruh baya menyebutkan bahwa kisah “Zaman Tiga Negara” akan segera dimulai. Saya sedikit mengenal kisah tersebut dari media lain, dan penasaran bagaimana bila dijabarkan melalui Wayang Potehi. Mungkin Anda pernah mendengar tentang Cao Cao ahli strategi?

Source kompasiana.com kompasiana.com/vika.kurniawati/5a77b5e45e1373422c3712e3/wayang-potehi-di-jemari-saya-ahkirnya
Comments
Loading...