Jenis Wayang : Jenis Wayang Lain Jarang Dipentas

0 13

Jenis wayang lain sudah jarang dipentaskan, bahkan menuju kepunahan, seperti wayang madya, wayang gedog, wayang klitik, wayang beber dan sebagainya. Kehidupan wayang kulit purwa Jawa sebelum Indonesia merdeka khususnya di Solo mendapat pembinaan dari keraton, hal itu ditanai dengan berdirinya pendidikan dalan yang disebut Pasinaon Dhalang Surakarta (Padhasuka), atas prakarsa Paku Buwana X (1983-1939) yang berdiri tahun 1923.

Berkat lulusan Padhasuka maka pedalangan gaya keraton atau Surakarta dapat disebarluaskan oleh aluminya antara lain seperti Pujasumarta, yang lulus dari Padhasuka tahun 1933, yang dalam pementasannya sangat menghormati kaidah-kaidah pedalangan gaya keraton, sehingga membawa dampak terhadsap dalang-dalang yang lain dan menyebar keseluruh wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Demikian pula Pura Mangkunegaran di bawah kepemimpinan Mangkunegara VII mendirikan pendidikan dalang yang dinamai Pasinaon Dhalang Mangkunegaran (PDMN) pada tahun 1931, yang melahirkan dalang tenar seperti Wignyasutarna yang menyebarluaskan gaya Mangkunegaran ke wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Kedua dalang tersebut (Pujasumarta dan Wignyasutarna) menjadi dalang yang paling populer dan disenangi masyarakat pada waktu itu (1940-1960), bahkan menjadi dalang kesayangan Presiden Republik Indonesia yang pertama yaitu Ir. Soekarno. Selanjutnya diikuti dalang-dalang lain yang juga mengembangkan dan menyebarluaskan pakeliran gaya Surakarta ke masyarakat pendukung pewayangan seperti : Nyatacarita, Arjacarita, Warsina, Panut Darmoko. Dengan demikian pedalangan wayang kulit purwa gaya Surakarta berkembang.

Source Research researchgate.net/publication/301740589_UPAYA_MENCEGAH_HILANGNYA_WAYANG_KULIT_SEBAGAI_EKSPRESI_BUDAYA_WARISAN_BUDAYA_BANGSA
Comments
Loading...