Jenis Wayang : Menelusuri Jejak Wayang Kulit INA

0 70

Sudah akrab dengan wayang kulit, hampir di setiap perhelatan pesta pernikahan, syukuran khitanan dan acara-acara syukuran lainnya hampir selalu digelar pertunjukan wayang kulit semalam suntuk. Untuk anak seusia saya waktu itu, saya termasuk anak yang dibilang aneh karena hampir tak pernah mau pulang ke rumah sampai pagelaran wayang itu usai (tancep kayon). Menginjak remaja, kegemaran saya menonton wayang kulit tidak berubah, meskipun jarak antara tempat pagelaran wayang kulit tersebut diadakan bisa mencapai puluhan kilometer tak menyurutkan niat saya untuk menyaksikan pagelaran wayang kulit tersebut.

Seiring perjalanan waktu, pagelaran-pagelaran wayang kulit kian berkurang dan nyaris tidak ada lagi.Acara hajatan yang dulu dilengkapi dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk sekarang berganti dengan pementasan organ tunggal, campur sari atau pementasan acara-acara musik lainnya. Dinamika telah berkembang sedemikian rupa, sehingga pagelaran organ tunggal dengan menampilkan penyanyi-penyanyi cantik lambat laun mulai mengikis pagelaran budaya wayang kulit yang syarat dengan pendidikan mengenai budi pekerti, nasionalisme dan nilai-nilai kehidupan yang kaya dengan nilai-nilai kebudayaan asli bangsa Indonesia.

Wayang kulit lazimnya menceritakan kisah Mahabharata dan Ramayana. Namun seiring perkembangan dan perubahan dalam masyarakat, wayang kulit tersebut menjadi berkembang dan mulai mengambil tema-tema selain kisah Mahabharata dan Ramayana. Pertunjukan wayang kulit telah diakui oleh UNESCO pada tanggal 7 November 2003.

Source Kompas kompasiana.com/fajartriyanto/5500c77da33311d3725122dc/menelusuri-jejak-wayang-kulit-sebagai-masterpiece-of-oral-and-intangible-heritage-of-humanity
Comments
Loading...