Jenis Wayang : Nonton Wayang Orang Membangkit

0 48

Bagi kebanyakan orang Jawa menonton (nonton) wayang kulit kalau kita lihat realitanya ternyata lebih sering daripada menonton wayang orang. Kalau kita amati lebih jauh, wayang kulit pun makin jarang dipertontonkan (“ditanggap”) dalam acara-acara hajatan karena alasan keuangan yang mahakuasa. Masyarakat lebih sering

nanggap

Campur Sari yang dipandang lebih praktis, murah, dan cukup meriah. Bisa dibayangkan apalagi masyarakat yang “nanggap” wayang orang mungkin  terbatas pada orang-orang tertentu dari kalangan penggemar atau paguyuban wayang orang saja, lembaga terkait/institusi/perusahaan yang para pemimpinnya peduli pada eksistensi wayang orang.  Oleh karena itu lahirnya Paguyuban Wayang Orang (PWO) Panca Budaya DIY yang melibatkan seniman-seniman dari 4 (empat) kabupaten (Sleman, Bantul, Kulonprogo, Gunungkidul) dan 1 (satu) kota (Yogyakarta) sejak 2 (dua) tahun yang lalu sungguh bagi saya (Kompasianer), dan Insya Allah masyarakat umumnya, merupakan upaya positif membangkitkan kenangan dan “kesenangan” masa kecil.

PWO Panca Budaya DIY dalam kiprahnya keliling memberikan hiburan gratis kepada masyarakat (tentu dengan bantuan sponsor, termasuk Pemda DIY) dipimpin oleh Agus Setiawan, bersama Tukiran (Naskah/Sutradara), Agus Ley-loor (Art Dierector), Widodo K. (Penata Tari), Ki Agus Hadi Sugito (Dhalang), dan Eko Purnomo (Penata Gendhing). Pengalaman saya nonton 2 (dua) kali pergelaran PWO Panca Budaya DIY baru-baru ini cukup berkesan dan mungkin dapat membangkitkan kenangan masa kecil saya.

Source Kompas kompasiana.com/margitawimaka.blogspot.com/54f5cebca333110f538b458f/nonton-wayang-orang-membangkitkan-kenangan
Comments
Loading...