Jenis Wayang : Pakeliran Padat, sebagai Saji Estetis & Art

0 238

Pakeliran padat. Tujuan utama penggarapan pakeliran padat adalah untuk mengembalikan fungsi pokok pakeliran sebagai sajian estetis dan artistik. Pakeliran padat dengan demikian mengutamakan kesesuaian antara wadah/ bentuk dan isi dengan cara memaksimalkan kekuatan unsur-unsur garap pakeliran. Oleh karena itu, penggarapan pakeliran padat harus berpangkal pada tema dasar, garap lakon, garap adegan, garap tokoh, garap catur, garap sabet, dan garap karawitan pakeliran.

Setelah pakeliran padat terbentuk, Humardani berusaha memperkenalkannya baik kepada kalangan dhalang, budayawan, maupun masyarakat pecinta wayang melalui forum sarasehan, lokakarya, lomba naskah, lomba penyajian pakeliran padat, dan siaran radio maupun televisi. Pakeliran padat tidak berpretensi untuk menggeser kedudukan pakeliran semalam-suntuk, melainkan untuk memperkaya kehidupan budaya. Bentuk pakeliran padat masih tetap menggunakan vokabuler-vokabuler pakeliran semalam suntuk, meskipun tidak harus selalu mengikuti secara ketat aturan-aturan yang digunakan dalam pakeliran tradisi, baik menyangkut aturan adegan, pathet, gendhing, maupun sulukan.

Setelah kemangkatan Ki Nartosabdho pada 1985, dengan mengambil inspirasi pembaharuan yang telah dilakukan oleh Ki Nartosabdho dan konsep-konsep pembaharuan tentang pakeliran padat yang digagas oleh Akademi Seni Karawitan Indonesia Surakarta di bawah kepemimpinan S.D. Humardani (1975-1983), Ki Manteb Soedharsono berusaha melakukan pembaharuan pakeliran. Untuk kepentingan itu ia membentuk tim kreatif yang terdiri atas seniman akademisi dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI)—sekarang menjadi nama ISI.

Source listantoedy.wordpress.com listantoedy.wordpress.com/tag/ki-nartosabdho-bentuk-pakeliran
Comments
Loading...