Jenis Wayang : Serial Wayang Kontemporer Wisanggeni

0 46

Syahdan dalam pengembaraan mencari Sang Ayah, merasa lelah lantas mengaso di bawah Bringin Kurung di Alun-Alun di Kerajaan Betaviala. Angin sumilir menidurkannya hingga menjelang senja. Itu pun terbangun karena kakinya yang menjulur ke arah Beteng Lor, disandung oleh kaki Sang Kanthongbolong, hingga anak Semar itu jatuh tersungkur terguling-guling. Kedua manusia itu sama terkejut.

“He, siapa kamu, di mana matamu kok menabrak orang lagi tidur”
“Maaf den, aku Kanthongbolong alias Dawala alias Dublajaya alias Pentungpinanggul alias Petruk—maaf den aku lagi bingung kelanganpetel, aku sudah menyinggahi banyak negeri, kota dan kerajaan—petel-ku belum juga ketemu “
“Petelmu hilang, ‘ja kuatir ganti baru —nanti kubelikan”
“Jangan den petel itu sangat bertuah, lama telah mengiringi pengabdian saya kepada para kesatria yang jujur dan sakti”
“Baiklah, negeri mana saja yang telah kamu singgahi ?”
“Den negeri ini namanya Betaviala—sebelumnya aku mampir di Kerajaan Pancala, sebelumnya lagi Matswapati, sebelumnya lagi Khadiri, sebelumnya lagi Rambipuji, sebelumnya lagi Kerajaan Astina, sebelumnya lagi Kerajaan Dwarawati, sebelumnya Kerajaan Amarta sebelumnya lagi desa-ku Tumaritis “
“Begitu luas daerah yang dijajahi, petelmu belum ketemu ?”
“Belum den—aku den, sejak dari Astina, pikiran-ku bertambah-tambah gendheng. Bukan saja masalah kehilangan petel, tetapi jadi tambah sedih, benci.

Source Kompas kompasiana.com/mw.arif/54ff5e19a33311934a510046/serial-wayang-kontemporer-03-wisanggeni-mendamprat-prabu-duryudono
Comments
Loading...