Jenis Wayang : Wayang Kontemporer Buto Rambut

0 29

Buto Rambut Geni bukanlah tokoh pewayangan yang menonjol — ia hanya figuran dalam jagat filosofi perwayangan. Tetapi Mengapa ? Ia marah sekali dengan cara mengurus Negeri yang Dikasihi Dewa ini — Mengapa rakyatnya bisa lapar, kekurangan pangan ? Ia menangis mengeluarkan air mata darah melihat orang-orang dewasa mengerang karena lambungnya kering, anak-anak yang garing meringkuk kelaparan.Buto Rambut Genimenangis darah.

Ia memilih tempat yang paling berbatu di puncak gunung itu — ia bertekad ingin berbuat seperti Kumbakarna, mati dalam pengabdian kepada kebenaran.Ia kalau perlu biarlah mati dalam kelaparan.Ia ingin merasakan apa yang dirasakan rakyat NTT yang mati kelaparan, yang sengsara kelaparan. Angin kering bertiup kencang di sana – ia tancapkan tapak kaki kanan-nya pada puncak batu tajam seperti paku, ia tahu di tapak kaki kirinya pun ada batu tajam menghunjam tapak kakinya.

Ia kulum ludah dan udara di rongga mulutnya — ujung lidah di langit-langit mulut. Ia menghadap utara melepas matanya sejauh-jauhnya — hanya biruLaut Flores, membentang. Tampak kapal-kapal nelayan dengan berbagai Bendera, melaut, menjangkau hasil perikanan yang kaya raya.Senyap. Ia bertapa seperti burung bango — kaki bergantian menjejak bumi.Tapa Bango ini pernah dilakukan Sang Prabu Rahwana waktu menuntut Ilmu Kesaktian kepada para Dewa.Manjur mandraguna. Dari panorama sudut matanya ke horizon Sabang Merauke — redup, aura kenaifan yang menyelubungi, seperti Ibu Pertiwi merunduk nelangsa.

Source Kompas kompasiana.com/mw.arif/54ffb614a33311726350fa06/wayang-kontemporer-08-buto-rambut-geni-tapa-bango
Comments
Loading...