Jenis Wayang : Wayang Kontemporer Sabda Batara

0 14

Ada sepeti wayang kulit yang telah dimiliki keluarga itu sejak tahun 1869. Sejak Eyang Uyut Tukijo berhasil menjadi centeng perkebunan tembako di Deli.

Jan, aku mau kamu tetap dikenang sebagai dhalang buana — syukur malam Jum’at Kliwon ini kamu datang. Begini Jan

Tidak ada kelanjutan suara berat itu.

Jan, aku mau kamu memberitahu bangsa-mu — arahan ini kuberikan kepada anak cucumu, cicitmu — karena jasamu menghidupkan peranku dalam setiap pertunjukan wayang untuk ruwatan, lakon Murwakala  untuk keselamatan. Begini Jan

Hening kembali. Diberanikan Pitut untuk menjulurkan kepalanya lebih dalam ke ruang tamu.  O, terlihat dinding tempat Ki Dhalang Tukidjan mengarahkan sembahnya. Ada seorang raksasa berdiri hampir kepalanya menyundul pian.  Matanya bersinar merah, terkadang ada kilas giginya yang putih.

Jan, aku sadar aku harus menyayangi anak cucu dan cicitmu Jan

Suara itu datar tetapi berat. Intonasinya seperti orang akan menyampaikan berita simpati.

“Jan ada tujuh bencana akan menimpa bangsa-mu Jan — aku beri penangkalnya, teruskanlah berita ini kepada anak-cucumu dan cicitmu. Bencana itu Jan, mengerikan !”
“Apa  tujuh bencana itu pukulun. “

Terdengar suara mbah Tukidjan bergetar, tetapi ia tidak mengangkat wajahnya. Hening sekali malam Jum’at itu. Suara jangkrik saja tidak ada, barangkali sekali-kali ada suara angin menggesek daun dan ranting yang berderik.

Source Kompas kompasiana.com/mw.arif/54ff73f6a33311ec4c51004b/wayang-kontemporer-05-sabda-batara-kala-kepada-dhalang-tukidjan
Comments
Loading...