Jenis Wayang : Wayang Kulit Betawi, Degradasi Beranting

0 183

Wayang Betawi merupakan degradasi beranting dari Jawa Tengah sampai Jakarta dan sekitarnya. Wayang kulit Betawi dalam bentuknya dewasa ini, di iringi gamelan logam. Beberapa orang dalang lanjut usia, seperti : Neran (75 tahun) di Cibubur, Kapang (82 tahun) almarhum di Kampung Buek, Tambun dan Belentet kampung rawa Ruko, Tambun, Bekasi, mengatakan bahwa sampai tahun dua puluhan pergelaran Wayang Betawidi daerah DKI Jakarta dan sekitarnya masih lazim di iringi gamelan bambu, yang bentuknya seperti calung Banyumas.

Seperti lazimnya pergelaran wayang kulit, wayang kulit Betawi juga biasa menggunakan kelir, yang menurut istilah setempat biasa disebut kore. Alat musik pengiringnya terdiri dari gendang, terompet, (ada juga menggunakan rebab), dua buah saron, keromong, kedemung, kecrek, kempul dan gong. Pergelaran wayang kulit Betawi adalah dilaksanakn dalam bentuk arena, dengan pentas sejajar dengan penonton. Pada umumnyta bermain di atas tanah di bawah “tarub” di halaman rumah.

Baru akhir-akhir ini beberapa dalang mulai mengadakan pergelaran di atas panggung. Lakon-lakon yang dipergelarkan dalam wayang Betawi kebanyakan lakon carangan “dari Mahabarata”, dengan cerita-cerita yang khas Betawi, seperti “Bambang Sinar Matahari”, “Barong Buta Sapujagat”, “Cepot Jadi Raja” “Banteng Ulung Jiwa Loro”, “Perabu Takalima Danawi”, “Kunpayakun”, “Sadariah KOdariah” dan sebagainya. Pada perkembangan kemudian banyak juga membawakan lakon-lakon wayang golek Sunda, seperti “Sang Hiyang Rancasan”.

Source kaskus.co.id kaskus.co.id/show_post/000000000000000607130023/885
Comments
Loading...