Jenis Wayang : Wayang Layar Tancap Transformer

0 97

Di pelataran radio RRI itu biasanya kami menggelar tikar, tiga baris dari depan. Sesekali kami memanggil tukang ronde sekedar untuk menghangatkan tenggorokan, tidak lupa pula kacang rebus, kopi, sarung, dan obat nyamuk. Alunan ritmis langgam gamelan, disertai suara sinden yang merdu mendayu, dihujani cahaya bintang, dan kopi adalah komposisi sempurna untuk kata trance. Sesekali tawa menyapa saat lakon punakawan atau perasaan tegang dan takzim kala episode goro-goro mencapai klimaksnya.

Dalang memang pandai melempar-lempar wayang. Hampir setiap malam minggu kami melewatinya di kampung dulu. Setiap 17 Agustus selalu ramai dengan perayaan dan berbagai perlombaan. Namun puncaknya adalah pentas seni dan layar tancap. Biasanya dua film diputar sekaligus, diselingi jeda setiap 30 menit untuk mengganti roll atau sekedar memutar iklan rokok. Yang pertama diputar adalah film Indonesia dan yang kedua film asing (atau yang ada orang bulenya).

Salah satu film yang masih diingat adalah ketika pak.sipapak.preman.preman alias mas Ikang Fawzi harus berbagi peran antagonis karena sang pahlawan akan dan selalu bang Haji Rhoma Irama…sungguh terlalu! Inilah perkenalan pertama kami dengan media visual yang lengkap. Pada saat itu entah kenapa wayang tidak semenarik dahulu.

Source kompasiana.com kompasiana.com/satya_yudha/55008562813311c91dfa79ea/wayang-layartancap-transformer-3
Comments
Loading...