Jenis Wayang : Wayang Postmodern Sentilan Kocak

0 71

Wayang Kampung Sebelah

yang dikomandoi Ki Jelitheng Suparman mulai mementaskan kesenian panggung yang “tidak umum”. Sekelompok seniman solo yang telah malang melintang di dunia kesenian mencoba menghentak di ibukota Propinsi Jawa Tengah dengan sebuah seni pertunjukkan di panggung 4×6 meter. Tanpa menghilangkan identitas ke-jawa-an perangkat kendang turut serta bersanding dengan peralatan musik modern mewarnai alunan suara pembuka dari pagelaran wayang.

Sebuah pagelaran yang sarat kritik sosial yang sering dicekal di beberapa wilayah ini, dengan konsisten selalu menyampaikan sindiran dan kritik yang tajam terhadap berbagai penyimpangan atau kebobrokan oleh para elit yang menyengsarakan warga. Semua itu dikemas di dalam berbagai adegan yang penuh humor sehingga suasana pertunjukan menjadi segar. Ki jeliteng mengungkapkan penciptaan wayang ini berangkat dari keinginan membuat format pertunjukan wayang yang dapat menjadi wahana mengangkat realitas kehidupan masyarakat secara lugas dan bebas tanpa harus terikat norma-norma estetik yang rumit seperti wayang klasik.

Tokoh-tokoh wayang yang disampaikan sangatlah berbeda, “wayang postmodern” saya coba menyebut pagelaran ini. Tokoh nyata seperti penarik becak, bakul jamu, preman, pelacur, pak RT, Pak lurah, sampai pejabat tinggi tingkat pemerintah kota dihadirkan dalam pagelaran ini.

Source kompasiana.com kompasiana.com/irawan.anggi/552fb0846ea8348a1a8b45b0/wayang-postmodern-sentilan-kocak-ala-wayang-kampung-sebelah
Comments
Loading...