Jenis Wayang : Wayang Purwo & Philosophia Perennis

0 60

Menyongsong era globalisasi segenap umat manusia seyogyanya menyadari adanya kesinambungan dan keterpaduan antar agama-agama yang beragam itu. Selanjutnya memahami adanya hubungan integralistic antara spiritualisme dan agama dengan seni-budaya dan sains-teknologi. Ini bermanfaat sebagai modal pembangunan Peradaban Milenium yang damai dan sejahtera. Dan kenyataan menunjukkan bahwasanya kekuatan suatu masyarakat atau bangsa ditopang oleh tiga pilar utama – agama, budaya dan karya (iptek).

Paduan ini kemudian dirangkum dan ditampilkan oleh para Wali Songo melalui arsitektur mesjid, upacara Sekaten (peringatan Maulid Nabi SAW), dan pagelaran Wayang Purwo. Keseluruhannya telah menggambarkan pagelaran ’Puncak Tasawuf’ atau Zenith Sufism, yang sekaligus mewakili model Ahlus Sunnah wal jama’ah. Padanya terdapat pelajaran sistematika prinsip membangun konsep melalui holistic approach, dan menerapkan aplikasinya melalui integrated efforts atau networkings.

Ens Est Bonum, Pilchrum, Verum – Dia itu baik, bagus, benar. Manusia selaku Khalifatullah di bumi lalu dinilai dari ethica, aesthetica, dan logica yang dimilikinya. Ini dilambangkan melalui dalang beserta seperangkat pakaiannya, ditambah sebilah keris tersarung yang disandang di belakang punggungnya. Dengan demikian wayang layak mendapat predikat par excellence (adhiluhung), karena telah menampilkan integrated systems yang padu dan harmonis. Para Wali Songo ternyata memiliki wawasan masa depan, karena mengajarkan integralisme, perennialisme, dan holistic approach sekaligus. Wayang Purwo – ibarat bangunan yang terintegrasi seutuhnya.

Source kompasiana.com kompasiana.com/sugiarto.neosufi/55005111a33311bb74510858/wayang-purwo-dan-philosophia-perennis
Comments
Loading...