Jenis Wayang : Wayang Suluh Pakerti, Transformasi Wayang

0 165

Seperti lentera (lampu), wayang Suluh Pakerti memiliki sumbu pendek yang mampu memantikkan pesan moral yang mengalir tak terduga dalam setiap pertunjukannya. Hanya berdurasi 3 jam pertunjukan. Sebuah transformasi seni pertunjukan wayang yang diolah sedemikian rupa, dengan menampilkan paduan wondo (perwajahan) wayang beber dan wayang suluh khas Pacitan dalam alur kekinian. Cenderung keluar pakem, tak hanya fleksibel dalam olah lakon, namun juga mampu menghadirkan kritik-kritik sosial yang nakal, apa adanya.

Mengapa disebut wayang Suluh “Pakerti”? Secara etimologi Jawa pakerti berarti penggawean, watak (Karakter), tabiat atau akhlak. Perbuatan atau juga sikap dan tindak-tanduk seseorang. Karakter atau watak yang diharapkan mampu menghadirkan penyadaran, memberikan sesuluh yang baik dan berguna bagi kehidupan. Wayang Suluh Pakerti adalah wayang yang terbuat dari kulit dan berbentuk manusia biasa, dengan tokoh wayang keseharian, misalnya P Lurah, P Haji, Ibu Guru, Bapak Guru, petani, saudagar, anak sekolah, mahasiswa dan lainnya.

Mbah Cermoyoso dari Pacitan adalah Dalang wayang suluh ternama di daerah Pacitan sekitar Tahun 70an. Wayang suluh yang berarti bayangan yang memberi penerangan, karena pengungkapan kisahnya secara terang-terangan, pakaian, dan corak wayangnya disesuaikan dengan kondisi jaman. Seiring waktu, keberadaan wayang suluh Pacitan seperti terpinggirkan. Bahkan bisa dibilang nyaris punah. Nasib yang sama juga nyaris menimpa yaitu Wayang Beber Panji.

Source kimpena.kabpacitan.id kimpena.kabpacitan.id/?p=692
Comments
Loading...