Lakon Pewayangan : Aswatama, Mulai Angkat Bicara

0 182

Tiga pengendara kuda bergegas menjauh dari danau besar yang muram itu, tiga laki-laki yang tak lagi ingin bicara. Mereka tak menyaksikan sesuatu yang tak akan dengan mudah ditanggungkan siapa pun, kecuali oleh Waktu. Perang selesai, sanak saudara punah terbunuh, tentara kalah, kekuasaan hilang. Dan pada klimaksnya, di tepi Danau Dwipayana yang tak dihuni, mereka melihat raja mereka, dengan tubuh setengah hancur, tergolek, sendiri. Duryudhana, ksatria yang sulit dikalahkan, telah berkalang tanah, dibalut debu, bersimbah darah.

Bima telah menghancurkan pahanya dengan bengis, melumpuhkannya – dan para Pandawa telah meninggalkannya telantar…. Hanya tinggal satu perasaan yang membuat ketiga pengendara kuda itu bergerak : rasa sedih. Berpacu, mereka melintasi sisa utara Kurusetra, menembus hutan, menggunakan kembali jalan yang bekas ditempuh pasukan, dan akhirnya berhenti di sebuah bukit lebat. Dari sana, mereka bisa melihat ke bawah – ke perkemahan pasukan Pandawa dan sekutunya, orang-orang Pancala.

Aswatama yang mulai bicara. Aku akan mengumpulkan sisa-sisa pasukan inti yang bersembunyi di jalan menuju Dwaraka – dan malam ini kita akan menyerbu masuk. Membinasakan mereka waktu tidur. Kripa dan Kartamarma hanya diam. Tuan-tuan setuju? Aswatama bertanya. Sebaiknya kita tidur dulu, jawab Kripa. Kemarahan menguasai kita kini. Besok pagi aku akan menyertaimu berperang. suaranya suara seorangyang lebih tua: hati-hati, bijaksana, capek. Aswatama memandanginya.

 

Source Wayangku Wayang Indonesia
Comments
Loading...