Lakon Pewayangan : Banjaran Kumbakarna, Amat Sedih

0 164

Lakon banjaran ini dimulai dari kesedihan yang mendalam yang dirasakan oleh Begawan Wisrawa dan istrinya, Dewi Sukesi, karena anak mereka yang kedua juga lahir dalam bentuk raksasa. Anak ini diberi nama Kumbakarna. Sedangkan anak sulung mereka yang bernama Dasamuka juga berwujud raksasa. Demikian pula anak ketiga, perempuan, ujudnya juga raseksi. Anak ini dinamakan Sarpakenaka. Barulah anak yang keempat, yang bungsu berujud ksatria tampan, dinamani Gunawan Wibisana.

Menjelang dewasa, keempat bersaudara itu pergi bertapa di hutan dengan tujuan yang berbeda-beda. Seperti saudaranya yang lain, Kumbakarna bertapa sampai bertahun-tahun. Akhirnya, datanglah Batara Narada menemuinya. Kepada dewa itu Kumbakarna mula-mula menyatakan keinginannya untuk hidup seribu tahun agar dapat lama menikmati nikmatnya makanan di dunia ini. Narada bersedia memenuhi permintaan itu, tetapi mengingatkan bahwa makin panjang umur seseorang, akan makin banyak pula kesempatan berbuat dosa.

Lagi pula orang berumur panjang bukan berarti tidak bertambah tua. Dan makin tua seseorang, tubuhnya akan makin lemah dan akan berkurang kemampuan lidahnya untuk menikmati rasa makanan. Mendengar hal itu Kumbakarna sadar, lalu mengubah permintaannya. Ia ingin agar dapat tidur lama sepuas-puasnya dan hanya bangun manakala ia ia menghendakinya. Batara Narada mengabulkan permintaan itu. Sewaktu Prabu Dasamuka menculik Dewi Sinta, Kumbakarna dan Gunawan Wibisana berusaha menyadarkan abangnya bahwa salah.

Source tokohpewayanganjawa.blogspot.com tokohpewayanganjawa.blogspot.com/2014/07/banjaran-kumbakarna.html
Comments
Loading...