Lakon Pewayangan : Cakrawyuha, Formasi Kepungan

0 150

Tidak ”utuh” ksatria Pandawa, Abimanyu, di medan Kurukshetra, mengalami nasib serupa. Alkisah, dalam Mahabharata, semasa di kandungan Abimanyu mendengar ibunya, Subadra, menyimak cerita Kresna tentang menghancurkan formasi-kepungan-maut-melingkar dalam perang bernama Cakrawyuha. Saat cerita menginjak bagian keluar dari formasi maut itu, sang ibu tertidur. Kresna berhenti bercerita. Si bayi supercerdas itu tak bisa menerima pelajaran tersebut dengan utuh.

Itu menjadi suratan bagi Abimanyu. Di keriuhan perang Baratayuda, Pandawa menerima tantangan Kurawa untuk menembus Cakrawyuha para tentara Kurawa. Pandawa pantang menolak tantangan meski para pemuka sakti Pandawa yang punya keahlian menembus Cakrawyuha, yakni Arjuna dan Kresna, sedang meladeni perang tanding dengan jagoan Kurawa. Maka, Abimanyu, sang Arjuna junior, yang menerima tantangan masuk ke Cakrawyuha. Para bala Pandawa pun berjanji mengeluarkannya seusai dia mengobrak-abrik kepungan itu.

Dan, ternyata keberhasilan Abimanyu membongkar kekuatan setani itu tak berakhir sempurna. Para kesatria Pandawa tak mampu mengeluarkannya dari kepungan maut itu. Abimanyu menjemput takdir. Gugur. Dalam pentas wayang kulit, setelah Abimanyu tumbang dengan luka di sekujur tubuh, dalang akan memberi aba-aba melantunkan musik hening. Gamelan gangsaran dan sampak yang riuh mengiringi perang berhenti. Berganti gesekan rebab mengalun mengiris-iris. Seperti tangisan di tengah malam sunyi. Menangisi sang kesatria yang tak gentar menerima tantangan, yang gugur di usia muda.

 

Source Wayangku Jawa Pos
Comments
Loading...