Lakon Pewayangan : Dhadhung Awuk (Penggembala)

0 210

Arjuna melamar Dewi Sembadra, tidak semudah ksatria kebanyakan, Prabu Baladewa mengingatkan sesuai pesan Prabu Basudewa, sebagai persyaratan ditentukan lima mahar yang harus dipenuhi, pengantin menaiki kereta kencana, disertai Kembang Mayang Kayu Dewanaru dari Suralaya, diiringi Gamelan Lokananta, berpengiring Bidadari. Mahar terakhir Kebo Danu sebanyak 40 ekor dengan penggembalanya Dhadhung Awuk. Bagawan Abyasa menyanggupi, diperintahnya Arjuna menghadap Hyang Kama Jaya dan Dewi Kama Ratih di Kahyangan Cakrakembang, berhasil meminjam pohon Dewandaru, gamelan Lokananta dan bidadari pengiring mempelai.

Wrekodara menemui Anoman di Kendalisada, ia minta Kereta Kencana dan Sasaka Dhomas, diajak ke Negeri Singgela menemui Prabu Bisawarna dan mengabulkannya. Kemudian mencari Kebo Danu masuk ke hutan Setragandamayu menghadap Sang Hyang Pramuni diijinkan bila berhasil mengalahkan Dhadhung Awuk. Dhadhung tali rami yang berukuran besar, sering digunakan untuk menambatkan kapal besar. Dari kata Dhadha yang disuku (U=laku) artinya detak-degup jantung, tanda kehidupan dan disandhangi Cecak.

Awuk dari kata Awak=tubuh yang disuku (U=laku) artinya lumaku, bergerak, obah, hidup karena masih dikendalikan berdetak nafas. Dhadhung Awuk menggembala 40 ekor Kebo danu, artinya sanepan, perumpamaan ini mengendalikan ‘kebodohan’, ‘keborosan’, ‘kebobolan’, ‘kebobrokan’, sikap malas, dosa, loba dan moha, nafsu manusiawi. Berbeda dengan Sapi (lembu) sesama binatang piaraan yang sangat penting bagi kehidupan petani, sapi ditempatkan sebagai binatang pemujaan masa Hindu.

Source Wayangku Susisardjito's Blog
Comments
Loading...