Lakon Pewayangan : Kelahiran Lima Batara Turun

0 76

Burung-burung berkicau riang. Bercanda menari-nari, di antara pohon-pohon surga. Mencuri-curi pandang pada sepasang kekasih. Mesra memadu asmara. Sepasang dewa-dewi yang tengah dimabuk cinta, di sebuah taman surga. Taman Istana Jonggring  Salaka, Kayangan Suralaya. Dari kemesraan Batara Guru dan Dewi Uma ini, kelak akan melahirkan keturunan-keturunan yang akan meramaikan Jagat Tribuana (jagat pewayangan). Beberapa bulan setelah pernikahan, sang permaisuri Kayangan, Dewi Uma.

Mengandung putra pertamanya. Selama mengandung si jabang bayi, gempa bumi melanda di mana-mana. Batara Guru mengetahui putranya ini akan menjadi orang yang istimewa. Saat kelahiran putra pertamanya ini ditandai dengan keharuman semerbak. Menyeruak menyebar ke segala penjuru Kayangan. Putra sulung Batara Guru ini diberi nama Batara Sambu. Batara Sambu memiliki watak yang tenang, jujur dan bertanggung jawab. ia bertugas sebagai penguasa mega (awan).

Selang dua tahun, Dewi Uma melahirkan putra keduanya yang bernama Batara Brahma. Penguasa api, yang ditandai dengan bergolaknya api Kawah Candradimuka. Melahirkan putra dengan semangat menyala-nyala. Ia ditugaskan menjadi Panglima atau Senopati Kayangan.

Source kompasiana.com kompasiana.com/jannuary/5a4faf5b5e137342fb1347f2/wayang-saga-series-episode-22
Comments
Loading...