Lakon Pewayangan : Kisah Palasara dan Lara Amis

0 225

Kisah Palasara, Lara Amis dan Abiyasa ini penuh dengan simbolisme dan mistisme. Minggu lalu diceritakan tentang Gunung menikah dengan sungai kemudian melahirkan manusia. Dilihat secara lahiriah dan harfiah, kelihatan sangat aneh sekali. Tetapi kalau dilihat secara intuitif dan simbologis atau dengan bahasa pujangga, memang demikianlah seharusnya. Karena gunung itu melambangkan lingga atau kejantanan, sedangkan sungai melambangkan lingga atau kejantanan, sedangkan sungai melambangkan kesuburan atau yoni atau kewanitaan.

Di kota Jakarta, kita juga dapat melihat lambang lingga dengan yoni dalam satu tempat, yaitu tugu Monas. Tugunya melambangkan lingga, sedang cekung dan ruang tenang dibawah tugu melambangkan yoni. Tentunya lambang Monas tersebut dimaksudkan sebagai keabadian yang turun menurun sepanjang zaman. Dalam Mahabharata disebutkan bahwa setelah sungai suktimati hamil berhentilah aliran sungai. Memang benar bahwa kehamilan itu menghentikan pengaliran.

Mengapa dipilih gunung dan sungai? Karena memang gunung dan sungai sudah jodohnya dan mengandung empat anasir, yaitu: tanah, air, api dan angina. Tidak ada gunung tanpa sungai, sebaliknya tidak ada sungai tanpa (dari) gunung. Dalam (tanah) gunung ada apinya, sedang dalam (air) sungai ada udaranya. Simbolisme proses cinta atau proses “turun-temurun” ini bukanlah “othak-athik” dan akalnya orang sekarang saja, tetapi sudah ada sejak filsafat Empedokles dari Yunani (490-530 SM)Silahkan belajar kata “Alam Pikiran Yunani”.

Source Wayangku Wayang Indonesia
Comments
Loading...