Lakon Pewayangan : Lakon-lakon yang Diciptakan

0 163

Di dalam pertunjukan wayang kulit purwa, lakon mempunyai kedudukan yang pokok untuk membangun keutuhan sebuah pertunjukan yang disebut pakeliran. Berpangkal dari lakon, garap unsur-unsur pertunjukan wayang kulit purwa yang meliputi: catur, sabet, gending dan sulukan terbentuk. Unsur-unsur ini saling melengkapi, saling dukung dalam rangka membentuk sebuah pertunjukan wayang kulit yang disebut dengan pakeliran. Penciptaan lakon  wayang kulit purwa berbeda dengan penciptaan lakon teater modern yang bermula dari ide dasar, kemudian dituangkan ke dalam cerita.

Para seniman dalang tradisional pada umumnya dalam menyusun lakon wayang tanpa memikirkan tema terlebih dahulu, mereka cenderung mengawalinya dengan menyusun kronologi cerita yang disebut dengan balungan lakon. Oleh karena itu dalam penyajian lakon tradisi, pembeberan alur cerita kadang lebih dominan daripada tema amanat yang tersirat di dalam lakon. Tema dan amanat lakon wayang tidak membingkai sebuah cerita tetapi justru sering tersembunyi di dalam adegan-adegan tertentu, sehingga suatu lakon kadang-kadang terdapat lebih dari satu tema dan amanat.

Pada umumnya, lakon wayang kulit purwa disajikan per episode. Lakon wayang yang berupa sekumpulan episode dalam satu kesatuan pentas disebut lakon banjaran. Oleh Sugeng Nugroho, lakon banjaran ini dibagi menjadi tiga jenis, yaitu banjaran wantah, banjaran jugag dan banjaran kalajaya. Banjaran wantah menceritakan peristiwa hidup satu tokoh dari lahir – mati.

Source ia800206.us.archive.org ia800206.us.archive.org/1/items/KiMantebSoedharsonoLR/Ki%20Manteb%20Soedharsono_LR.pdf
Comments
Loading...