Lakon Pewayangan : Pedhut ing (di) Pringgondani

0 34

Gatotkaca, ksatria Pringgandani putra Bima, dikenal sebagai tokoh yang amat sakti, bahkan dari sejak awal kelahirannya yang sulit. Metafora ”otot kawat balung wesi” (otot dari kawat dan tulang dari besi) sekadar perumpamaan untuk melukiskan betapa kuat dan jagoannya ksatria ini. Namun, malam itu, di tengah perang besar Bharatayuda, ia—yang semula hanya ditugaskan oleh Sri Kresna untuk memantau medan Kurusetra yang membara—harus menghadapi Adipati Karna yang juga memenuhi panggilan tugas untuk memimpin bala tentara Kurawa.

Setelah bertarung sengit, Karna pun melepas senjata sakti andalannya, yakni Kunta Wijayadanu. Pusaka ini sebenarnya juga kesulitan menemukan sasaran yang bersembunyi di balik mega. Namun, arwah Kalabendana, paman Gatotkaca yang dulu tak sengaja tewas oleh Gatotkaca, membantu karena ia ingin ke nirwana bersama sang keponakan. Gatotkaca yang sakti gugur dengan menimbulkan korban 1.000 prajurit Kurawa saat jasadnya menghunjam Bumi.

Source Kompas kompas.id/baca/humaniora/dikbud/2018/10/03/dikenang-kepahlawanan-gatotkaca
Comments
Loading...