Lakon Pewayangan : Petruk Dadi Ratu (Petruk Raja)

0 347

Cerita wayang “Petruk Dadi Ratu (Petruk Menjadi Raja)” itu merupakan salah satu cerita wayang karangan pujangga Islam dan tidak ada di dalam cerita Mahabarata. Banyak orang yang mengartikan bahwa lakon Petruk Dadi Ratu ini sebagai sebuah simbol atau sindiran akan ketidak becusan seorang pemimpin, atau seseorang yang tidak layak menjadi pemimpin dan di jadikan pemimpin sehingga hasilnya adalah kekacauan. Benarkah demikian…? Singkat cerita sang Petruk menjelma menjadi Prabu Kanthong Bolong, Petruk melabrak semua tatanan yang sudah terlanjur menjadi “main stream”.

Dia menjungkir balikkan anggapan umum, bahwa penguasa boleh bertindak semaunya, bahwa raja punya hak penuh untuk berlaku adil ataupun tidak. Bertindak semaunya terhadap rakyat dan juga kerajaannya. Tentu saja, ulah Prabu Kanthong Bolong tersebut membuat resah raja-raja lainnya. Bahkan Kawah Candradimuka pun mendidih perlambang ada yang membahayakan pemerintahan kerajaan-kerajaan. Hingga keadaan semakin semrawut. Sampai akhirnya lurah Semar Bodronoyo turun tangan untuk mengendalikan situasi.

Ngger, Petruk anakku

Semar berujar pelan, suaranya serak dan berat seperti biasanya.

Jangan kau kira aku tidak mengenalimu, ngger!
Apa yang sudah kau lakukan, thole? Apa yang kau inginkan? Apakah kamu merasa hina menjadi kawulo alit (rakyat kecil)? Apakah kamu merasa lebih mulia bila menjadi raja?
Sadarlah ngger, jadilah dirimu sendiri

Prabu Kanthong Bolong yang gagah berubah.

Source nahimunkar.org nahimunkar.org/cerita-wayang-petruk-dadi-ratu-sindiran-akan-ketidak-becusan-seorang-pemimpin
Comments
Loading...