Lakon Pewayangan : Sang Senapati Durna Gugur

0 369

Pada hari ke 15 pagi-pagi setelah mereka memuja pada dewa, semuanya pergi bersama ke medan perang. Hari itu Prabu Drupada gugur oleh Resi Druna. Resi itu kemudian berperang melawan Arjuna. Arjuna sudah mengeluarkan seluruh kesaktiannya tetapi tidak dapat mengalahkan Resi Druna. Batara Kresna mempunyai siasat agar sama-sama menyebarluaskan berita bahwa Aswatama (putra Druna) gugur. Yang dimaksud adalah ‘Haswatama’ nama seekor gajah (liman) untuk itu Batara Kresna memerintahkan Bima agar membunuh gajah tersebut.

Untuk meyakinkan bahwa Aswatama sudah gugur, Resi Druna menanyakan kepada Yudhistira yang tidak pemah bohong. Yudhistira membenarkan bahwa Aswatama sudah gugur. Diulangi lagi dengan suara berbisik, gajah Aswatama sudah mati. Akan tetapi karena suaranya lirih, dan Resi Druna sudah berumur 85 tahun, maka tidak dapat mendengar seutuhnya. Seketika itu Resi Druna jatuh dari tempat kedudukannya di kereta dan sambil menangis mengheningkan cipta.

Dresthajumena segera menjambak rambut Druna serta memancung lehemya hingga putus, dan gugurlah Sang Senapati. Arjuna akan mencegah, namun sudah terlanjur. Setelah Resi Druna gugur, para Kurawa lari pontang-panting. Mendengar ayahnya gugur, Aswatama marah sekali dan berusaha untuk membalasnya. Dengan mempergunakan senjatanya “Bramastra”.Aswatama mengumpulkan laskamya. Kemudian maju ke medan perang. Jika Bramastra dilepaskan, terus mengeluarkan api berkobar-kobar mengejar musuh. Seluruh laskar Pandawa takut. Untuk itu Satara Kresna lalu bersabda.

Source bukusekolahdigital.com bsd.pendidikan.id/data/2013/kelas_10smk/Kelas_10_SMK_Pengetahuan_Pedalangan_2.pdf
Comments
Loading...