Lakon Pewayangan : Struktur Dramatik Pakeliran Lakon

0 105

Dalam struktur dramatik pakeliran lakon ada pengalohan struktur guna terwujudnya suatu cerita serta pononton dapat terbawa dalam arus cerita. Pada pathet nem terdapat dua jejer dengan pembagian jejer I terdapat dua adegan. Pada pathet sanga terdapat satu jejer dengan satu adegan. Pathet manyuro terdapat satu jejer dengan tiga adegan. Pada pathet nem terdapat dua jejer dengan pembagian jejer I terdapat dua adegan yaitu adegan Prolog pada Kerajaan Tunggorono dan adegan Paseban, sedangkan jejer II terdapat satu adegan yaitu adegan Kerajaan Trajutresno.

Dalam rangkaian peristiwa ini pola bangunan lakon menunjukkan keberadaannya dalam dua jejer. Prolog melukiskan atas penolakan Raja Kahono menjadi bawahan dari Kerajaan Trajutresno. Adanya peristiwa tersebut menyebabkan adanya adegan kedua, yaitu paseban yang menceritakan peperangan. Peperang yang didasari dari penolakan mendasari perpindahan jejerI ke jejer II. Pada jejer II, Patih Pancatnyono menghadap kepada Prabu Boma untuk memberi berita bahwa Kerajaan Tunggorono yang dipimpin oleh Raja Kahono melakukan kudeta.

Setalah Patih Pancatnyono mengabarkan berita , datang Raden Samba dan Raden Setyaki untuk membawa berita bahwa Prabu Boma dipanggil oleh Prabu Kresna untuk segara pergi ke Kerajaan Amarto guna menyelesaikan masalh yang terjadi pada Kerajaan Tunggorono. Berangkatlah Prabu Boma bersama Prabu Krentagnyono menuju Amarto. Peristiwa tersebut merupakan pergerakan peristiwa dengan ditandai pergantian.

Source journal2.um.ac.id journal2.um.ac.id/index.php/dart/article/download/2185/1287
Comments
Loading...