Lakon Pewayangan : Sungsang Bawana Balik Hormat

0 248

Arya Subali kera berbulu merah nama lain Guwarsa, ksatria sebelum mandi di Sendang Tirta Mandirda, Kendalisodo bersama adiknya Guwarsi, Arya Sugriwo dan kakaknya Dewi Anjani, berebut Cupu manik astagina. Untuk menebus kesalahannya diberi petunjuk untuk bertapa Ngalong, memperoleh aji Pancasono mampu hidup kembali bila belum rela gugur kecuali karena menebus kesalahan sendiri dan ditangan titisan Wisnu. Dasamuka, Dasa=sepuluh dan Muka=wajah, 10 kepala dengan wajah raksasa memiliki sifat, tabiat dan kesaktian masing-masing.

Lambang sifat loba, dosa dan moha manusia yang hidup-mati, hidup kembali merambah dalam hati seseorang ke orang lain tanpa henti. Melihat kera berbulu merah, Rahwana berniat mempermainkan, mengalahkannya, sangat terkejut ketika kesaktiannya tidak mampu mengalahkan Subali, dengan wajah lain Dasamuka mulai merunduk dan menyerah berbalik bersikap hormat. Subali berbelas kasihan dan mengangkatnya sebagai murid, Dasamuka makin buwas setelah memperoleh kesaktian Subali dan mewarisi aji Pancasona, menantang gurunya berniat menyingkirkannya dan menjadi manusia tak terkalahkan, tidak dapat dimatikan (keangkara-murkaan tidak pernah mati).

Kejahatan berakhir dibawa mati seseorang, muncul kembali kejahatan yang  sama bahkan lebih besar oleh mereka yang terlahir kemudian. Sebagai contoh korupsi yang semula orang per orang berkembang menjadi korupsi bersama-sama untuk memperkecil resiko hukuman (Dum-Dil didum=bagi adil=sama-sama)Anoman, kera putih putra Dewi Anjani yang menangis karena putranya berwajah kera.

Source Wayangku Susisardjito's Blog
Comments
Loading...