Lakon Pewayangan : Tragedi Pasca-Pesta Karnaval

0 255

Sesuai sumpahnya, Bhisma tak akan terusik persoalan duniawi. Harta, tahta, dan wanita, sudah tak ada lagi dalam kamus hidupnya. Kecintaannya pada Hastina, negeri besar yang telah melahirkan dan membesarkannya, melebihi kecintaannya pada diri sendiri. Sebagai lelaki normal, sesekali dia ingin juga mencium aroma ketiak perempuan yang sanggup merangsang naluri kelelakiannya. Lantas, menuntaskan gairah asmara yang berlipat-lipat di dalam keremangan sebuah bilik bertaburkan bunga-bunga narwastu dari syurga.

Namun, keteguhan hatinya dalam memegang prinsip telah berhasil menaklukkan godaan yang tak jarang menjerumuskan umat wayang (manusia) ke dalam kubangan nafsu dan kemanjaan selera rendah. Sementara itu, suasana jantung kota Hastina penuh ingar-bingar. Ribuan rakyat memadati alun-alun. Mereka tengah menyaksikan “pesta” karnaval dalam memeringati ulang tahun kelahiran negerinya. Banyak atraksi yang disuguhkan para peserta, mulai yang serba sederhana dan tradisional hingga yang serba canggih dan modern.

Tepuk tangan dan aplaus meriah bersambung-sambungan; menggetarkan bumi Hastina, menyambut kehadiran ronbongan peserta. Semua rakyat menikmatinya dan larut dalam kemeriahan pesta. Di panggung kehormatan, tampak Setiyawati, janda almarhum Sentanu, yang tampak anggun dan kharismatik, Citranggada, penguasa Hastina, didampingi Ambika, istrinya, Wicitrawirya, didampingi Ambalika, istrinya, dan beberapa aparat Hastina yang lain. Di tengah ingar-bingar pesta itu, Bhisma justru merasa kesepian. Tiba-tiba saja, dalam bentangan layar memorinya, hadir sesosok perempuan.

Source Wayangku Wayang Indonesia
Comments
Loading...