Lakon Pewayangan : Wajah Pucat Pandudewanata

0 124

Pria bertubuh langsing semampai itu bernama Sri Pandudewanata atau Prabu Gandawakstra. Maharaja keraton Astina yang kedigdayaannya bagaikan nggayuh angkasa. Konon Raja Dewapun sangat menghormatinya, karena berhutang pada kesaktian sang Raja. Di tangannyalah negeri Astina menjadi kuat dan terkenal, ditakuti oleh lawan dan disegani kawan. Tapi di malam bulan temaram itu, Pandu yang perkasa tampak menangis di peraduannya. Duduk tertelungkup di pembaringan dengan lunglai, bergerimis keringat dengan rambut terurai.

Sebentar-sebentar mendesah, menyesali sikap istrinya yang menolak saat ia sedang berhasrat. Dan air kesucian sang raja itupun lantas tumpah tak terarah, membasahi kain sutra berenda dan bersulam emas. Adalah telah sekian tahun lamanya raja ini dihantui keraguan besar, benarkah mereka putraku? Puntodewa, Bima, Arjuna, oh .. kurangajar sekali kau kunthi. Ternyata benar apa yang dikatakan Hario Suman ! Anak si kusir itupun adalah bagian darimu, hemm.. inikah keluarga yang katanya disayangi dewa itu?

Batara Darmo, Bayu, Indra.., mereka adalah deretan nama yang telah berani mengkerdilkan kelelakianku. Ooo.. dewa, mengapa aku yang harus kalian korbankan untuk menanggung buramnya mantra adityahredaya resi Druwasa? Memang aku akui, dulu aku terkena kutukan bapa brahmana, tapi itu kisah teramat lama yang telah termakan zaman. Kau cuma mengada-ada Kunthi.. kau hanya beralasan untuk bisa menikmati lagi libido syahwatmu.

Source Kompas kompasiana.com/rusrusman522/5bc38be243322f13822f3e42/kisah-wayang-tangisan-prabu-pandhu
Comments
Loading...