Literatur Pewayangan : Kabut di Taman Gilingwesi

0 171

Judul buku         : Kabut di Taman Gilingwesi
Penulis               : Wibisono
ISBN                  : –
Penerbit              : C.V. Indrapress/Si Kuncung, Jakarta
Tahun terbit        : 1974
Jumlah halaman : 56
Desain cover      : S. Wibisono (ilustrator)
Harga beli          : –
Nilai                   : 2,5 dari 5

Kabut di Taman Gilingwesi adalah lakon wayang pembuka yang dijadikan judul dari sebelas lakon pewayangan dalam buku ini. Ilustrasi yang disertakan adalah ilustrasi wayang kulit bergaya dekoratif. Buku ini sekali lagi seperti buku-buku bunga rampai cerita yang kupunya ditujukan bagi anak-anak. Terutama dalam memperkenalkan bahwa dunia wayang Nusantara pun tak kalah ajaib dan serunya (karena lebih banyak pertarungan) dari dongeng-dongeng impor.

Banyak lakon dalam buku ini yang tidak mudah dijumpai (mungkin karena aku kurang mengenal wayang), tapi yang jelas lakon-lakon di sini merupakan bagian kecil dari bagian yang jauh lebih besar lagi. Akibatnya cerita seperti seakan langsung menempatkan pembaca di tengah konflik tanpa tahu latar belakang apa yang terjadi sebelumnya. Seperti umumnya cerita wayang, tokoh baik dan jahat tampil cukup tegas antara putih dan hitam, jarang menyentuh wilayah abu-abu.

Di sini pun begitu, kecuali lakon “Kabut di Taman Gilingwesi” yang  cukup tragis sekaligus membingungkan karena mengingatkan pada cerita Sangkuriang/Tangkuban Parahu. Dikisahkan Dewi Sinta dari kerajaan Purwakanda ternyata selama ini menikahi putranya sendiri, Prabu Watugunung. Ia baru menyadari hal tersebut setelah melihat bekas luka.

Source bukujino.blogspot.co.id bukujino.blogspot.co.id/2015/08/kabut-di-taman-gilingwesi.html
Comments
Loading...