Literatur Pewayangan : Telaah Raga Kayu Manusia

0 191

Telaah ini terdiri atas tiga bagian. Bagian pertama menyajikan anatomi lingkung seni wayang golek, yang berbasis keluarga, dengan dalang sebagai titik pusatnya. Keluarga itu meluas, melebar, dan bercecabang, turut membentuk, memengaruhi, dan mewarnai identitas kolektif di lingkungan budaya daerah. Wayang golek di tatar Sunda sama pentingnya dengan wayang kulit di tanah Jawa. Standardisasi dirumuskan, pakem dan tetekon digariskan, wayang purwa yang menimba ilham dari India dijadikan acuan seraya menghasilkan warna setempat sebagaimana yang terlihat dari kehadiran Panakawan.

Bagian kedua menghubungkan panggung wayang golek dengan panggung kebangsaan. Kekuasaan negara adalah salah satu pihak yang berkepentingan memanfaatkannya. Peralihan kekuasaan turut memengaruhi dinamika pedalangan. Rupa-rupa krisis tecermin pula di panggung wayang, termasuk ”krisis sinden” pada 1960-an yang sempat mengganggu wibawa dalang. Teknologi media, juga perubahan cara hidup masyarakat, tak kurang pentingnya. Pragmatisme dalang, juga kesanggupan dan kemampuannya menghasilkan berbagai inovasi, menyiasati semua faktor itu.

Bagian ketiga mempertautkan wacana wayang golek dengan wacana kebudayaan di lingkungan dunia, setidaknya ”dunia” sebagaimana yang dilihat oleh UNESCO. Dalam bagian ini Sarah mengajak pembaca memikirkan segi-segi wayang golek sebagai ”karya agung warisan budaya lisan dan tak benda manusia” (chef d’oeuvre du patrimoine oral et immatériel de l’humanité)—sebuah istilah yang sukar dilafalkan. Apa artinya jika wayang golek dimasukkan?

Source Kompas kompas.id/baca/buku/2018/07/21/antropologi-wayang-sunda
Comments
Loading...