Museum Wayang : Dawet Ayu di Museum Wayang

0 15

Siang yang panas, saat peluh keringat bercucuran membasahi tubuh. Gerangan apa yang membuat tubuh ini gerah, ternyata 2 sosok Punokawan yakni Gareng dan Semar. 2 sosok ini menjadi simbol dan harapan agar cuaca panas dimusim

mareng
(kemarau).

Semar dan garenglah yang membuat mareng tersebut. Itulah simbol dari segarnya dawet ayu Banjarnegara. Tubuhpun dingin dan terasa segar kembali usai menenggak segelas dawet mareng tersebut. Mengapa menggunakan simbol Semar dan Gareng untuk merujuk kata “mareng”?. Saya yakin ini bukan simbol sembarang simbol. namun memiliki makna filososfi yang dalam selain kata mareng. Punokawan adalah sosok yang merakyat, konon dawet ini adalah kuliner yang merakyat dan semua bisa menikmati.

Dari pedagang di pinggir jalan hingga mereka yang membuka lapak di mall-malam besar bahkan ke mancanegara. Simbol punokawan tidak berhenti pada produk minuman saja, namun banyak bertebaran di pertokoan-pertokoan. Toko emas, kebanyakan memberi nama tokonya dengan nama punokawan, biasanyanya; Semar dan Bagong. Mengapa wayang begitu kuat dan melekat, sebab dari dawet hingga toko emas memakai nama wayang, jangan-jangan suatu saat nama maskapai penerbangan memakai nama wayang, selain nama pesawat “Tetuko”. Akhirnya saya melangkah di sebuah museum di Kota Tua, jakarta. Arloji di tangan kanan saya menunjuk angka 14.30, sedang papan pengumuman menuliskan jam kunjungan hingga pukul 15.00.

Source kompasiana.com kompasiana.com/dhave/552ff3776ea83424708b45bd/menikmati-dawet-ayu-di-museum-wayang
Comments
Loading...