Naskah Wayang : Pakeliran Padat, Kreasi Wayang

0 491

Di era globalisasi seperti dewasa ini, dalang dituntut memiliki kreativitas tinggi. Modernisasi di bidang teknologi dan komunikasi membawa dampak yang cukup besar terhadap kehidupan seni pertunjukan wayang kulit baik dampak positif maupun negatif. Daya tarik pertunjukan wayang kulit menjadi pertaruhan bagi seniman dalang terhadap masyarakat, umumnya generasi muda yang telah terpikat dan telah dimanjakan oleh modernisasi teknologi informasi maupun komunikasi.

Kreatifitas dan Inovasi dalam pertunjukan sangat dibutuhkan untuk membuat wayang tetap bertahan ditengah derasnya arus perubahan di berbagai bidang kehidupan. Pakeliran padat adalah salah satu jawaban atas tantangan perubahan jaman tersebut, yang merupakan suatu bentuk kerja kreatif inovatif dalam bidang garap pertunjukan wayang kulit. Muncul pertama kali pada tahun 1973 di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta (sekarang ISI Surakarta) dan semakin mendapatkan tempat di masyarakat serta mencapai bentuk kemapanannya 3 (tiga) tahun kemudian yaitu 1976.

Dimaksud padat dalam hal ini bukan saja memadatkan, memampatkan atau meringkas durasi pertunjukan yang semula semalam suntuk menjadi 1 (satu) jam, 2 (dua) jam atau paling lama 4 (empat) jam saja, namun merupakan suatu tindakan dan proses kreatif yang meliputi semua unsur yang tercakup dalam pertunjukan wayang kulit. Unsur-unsur yang tercakup dalam garap tersebut antara lain garap cerita atau lakon, garap antawacana yang meliputi janturan, pocapan, dan catur, garap vokal.

Source bukusekolahdigital.com bsd.pendidikan.id/data/SMK_11/Pedalangan_Jilid_2_Kelas_11_Supriyono_dkk_2008.pdf
Comments
Loading...