Ngesti Pandowo : Era Keterbukaan Ngesti Pandowo

0 243

Sedikitnya 200 kursi duduk gedung pertunjukan Ki Nartosabdho Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) diisi penonton, Sabtu (2/7) malam. Masyarakat bersiap menyaksikan pergelaran Wayang Orang Ngesti Pandowo sejak awal adegan. Penonton yang datang pertengahan dipersilakan duduk di kursi penonton lantai dua. Menikmati seni tradisi ini, masyarakat harus merogoh kocek Rp 30 ribu. Dalam pentas dengan lakon Gareng Dadi Ratu ini, wayang orang yang sudah berkarya pada 1940-an juga merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-79. Pimpinan Wayang Orang Ngesti Pandowo Djoko Muljono mengatakan lakon yang dibawakan tidak ada hubungannya dengan ulang tahun. Namun, lakon ini pihaknya melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak.

Dalam rangka HUT ke-79 kami pilih lakon yang sudah dikenal masyarakat

kata Djoko di TBRS. Kolaborasi dilakukan dengan dosen Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Prof Edi Dharmana dan Prof Hertanto. Para dokter yakni Dr Damai Santosa, Dr Bambang Sudarmanto, Dr Meita Hendrianingtyas, Dr Martha Ardiaria. Termasuk juga Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah Agus Wariyanto. Mereka didapuk menjadi pemainnya. Di momen hari jadi itu Djoko mengungkapkan keterbukaan Ngesti Pandowo dengan berbagai hal yang dilakukan. Mulai dari penari di berbagai sanggar tari, keterbukaan partisipasi menjadi wayang atau bagian lain, penggunaan media sosial untuk promosi, hingga menyediakan layar sebagai pemandu pementasan.

Kami buka seluas-luasnya.

Source ngestipandawa.com ngestipandawa.com/2017/04/era-terbuka-ngesti-pandowo
Comments
Loading...