Pagelaran Wayang : Abimanyu Mandira Sungsang

0 195

Pementasan “Abimanyu Mandira Sungsang” oleh komunitas Wayang Kautaman di Gedung Kesenian Jakarta, 7-8 April 2017, sebagai upaya menjadikan wayang orang meruang di Jakarta. Wayang orang bukan nostalgia masa lalu, melainkan juga bagian dari kehidupan masyarakat Jakarta masa kini.

Kami tak ingin mengajak penonton bertamasya ke masa lalu

ujar Nanang. Nanang Hape menulis naskah “Abimanyu Mandira Sungsang” pada pertengahan 2016. Titik tolaknya dari hubungan ayah dan anak; hubungan antara Arjuna dan anaknya, Abimanyu. Abimanyu pun akhirnya berada di bawah bayang-bayang kebesaran Arjuna. Arjuna yang semula lembut menjadi galak terhadap anaknya sendiri. Arjuna yang tidak suka mendikte akhirnya mendikte anaknya sendiri. Abimanyu didikte Arjuna agar menikah dengan Utari, putri bungsu Raja Wirata.

Abimanyu menolak karena ia sudah memiliki istri, Siti Sundari. Pementasan dimulai. Denting gamelan mengalun. Layar merah tersibak. Dari situlah adegan bermula. Arjuna bertemu Abimanyu. Gerak tari mereka merujuk kerinduan ayah dan anak yang bertemu kembali setelah terpisah sekian lama. Penata artistik Sugeng Yeah menghadirkan dua layar besar yang menangkap gambar pemandangan dari proyektor. Syahdu karena dipadu dengan kabut.

Arjuna bersama saudara-saudara Pandawa lainnya berhasil menuntaskan masa hukuman pembuangan selama 13 tahun. Itu karena mereka kalah main dadu dengan para Kurawa. Ketika mulai menjalani masa pembuangan, Abimanyu berusia satu tahun. Ia kemudian diasuh ibunya, Subadra.

Source Kompas kompas.id/baca/hiburan/2017/04/08/wayang-orang-mencoba-meruang
Comments
Loading...