Pagelaran Wayang : Hidupan Pertunjukan Wayang

0 74

Kehidupan seni pertunjukan wayang di tengah masyarakat di samping menyertai reite de passages juga menyertai upacara seremonial seperti peresmian gedung baru, pembukaan jembatatan menyertai ritual desa (bersih desa, nyadranan, suran, sedekah laut, ruwatan) dan sebagainya. Kepopuleran para dalang tersebut di atas makin menurun setelah Nartasabda muncul pada tahun 1957/1958. Dalang Nartasabda tampil dengan gaya pedalangan yang berbeda dengan kaidah pedalangan keraton walaupun ia menganut pakeliran gaya Surakarta, bahkan para guru-guru dalang yang diserap Nartasabda seperti Pujasumarta, Wignyasutarna, pakelirannya murni gaya keraton Surakarta dan gaya Mangkunegaran.

Nartasabda meramu gaya pedalangan para dalang ternama seperti humornya meniru Nyatacarita, sabet menuri Arjacarita, sedangkan catur dan dramatik serta sanggit meniru Pujasumarta dan Wignyasutarna. Kehadiran Nartasabda dalam jagad pedalangan memberi warna tersendiri pada wauju pakeliran wayang gaya pedalangan yang mencakup: janturan, genem, pocapan, banyol, gendhing-gendhing, sulukan dan sanggit berbeda dengan pakeliran pada umumnya.

Menurut Nartasabda pakelirannya disesuaikan dengan prekembanan zaman dan perubahan masyarakat, maka karya pakelirannya disebut pedhalangan gaya baru. Ia yang memadukan gaya pakeliran Surakarta dan gaya pakeliran Mataraman pertama kali, bahkan mencampur adukan gendhing wayangan Surakarta dengan gendhing wayangan Yogyakarta, sulukan, dhodogan dan keparakan gaya Mataraman terutama pada agegan gara-gara. Garapan pakeliran Nartasabda menimbulkan barbagai komentar dari para pendukung pewayangan antara lain dikatakan baru.

Source Research researchgate.net/publication/301740589_UPAYA_MENCEGAH_HILANGNYA_WAYANG_KULIT_SEBAGAI_EKSPRESI_BUDAYA_WARISAN_BUDAYA_BANGSA
Comments
Loading...